source: rawpixel.com
Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi/POV penulis dan bukan generalisasi.
Setelah menengok kembali tulisan lama di blog ini terbayang seperti apa aku empat tahun lalu dilihat dari caraku menulis. Diri yang penuh dengan kecemasan, berusaha untuk bisa fit in dan dianggap sebagai karakter tertentu, dan cenderung memaksakan diri menulis hal yang tidak dekat dengan dirinya.
Fase yang wajar dialami, memang.
Setelah hiatus selama hampir 4 tahun rutin menulis karena menikmati peran dan fase hidup yang berbeda, sebagai mahasiswi, kini aku berusaha meraba kembali hal - hal apa yang kusenangi dan kurindukan untuk dilakukan. Salah satunya, menulis. Menulis dengan perasaan ringan dan membahas apa yang dekat dan kusukai.
Artikel kali ini kurang lebih berisikan refleksi diri dan renungan setelah melewati fase kuliah
.
Setiap orang punya luka masing - masing
Hal pertama yang aku sadari adalah setiap orang memiliki luka dan kesulitannya masing - masing. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk meregulasi rasa sedihnya dan bagaimana mereka menjalani rutinitas hidupnya sambil berjuang melewati kesulitannya. Tampak riang tidak berarti hidupnya riang dan semudah tawanya.
Mendengar itu mahal
Tidak semua orang memiliki kemampuan mendengar dan bersedia untuk mendengarkan orang lain. Mendengar untuk memahami. Mengapa dikatakan mahal? karena jarang orang yang bersedia mendengarkan orang lain.
Mengenal diri adalah proses sepanjang masa
Hidup adalah rangkaian peristiwa yang dinamis sepanjang waktu. Jadi, tak perlu khawatir apabila belum sepenuhnya kenal dengan diri sendiri dan belum yakin ingin mengarah kemana. Selagi kita masih dapat produktif, bermanfaat, dan bahagia maka fokuslah dengan fase yang saat ini dihadapi.
Semoga dengan berbagi beberapa hal ini dapat menjadi penghibur maupun healing untuk teman - teman yang membaca. Sampai jumpa di bagian dua.
Dzakiyasmin



